Anda pengunjung ke 70890
Jumlah Pengunjung online
1
Jumlah situs 131
: : Kabupaten Blitar : :
04-11-2008
Blitar terletak dikaki lereng gunung Kelud di Jawa Timur. Daerah Blitar selalu dilanda lahar gunung Kelud yang meledak secara berkala sejak zaman kuno sampai sekarang. Lahar mengalir kebawah melalui lembah-lembah sungai dan membeku menutup permukaan bumi.
Abu yang memancardari bawah gunung berapi akhirnya jatuh juga di permukaan bumi dan bercampur dengan tanah. Lapisan-lapisan tanah vulkanik daerah Blitar pada hakekatnya merupakan suatu kronologi tentang ledakan-ledakan gunung Kelud yang kontinu dari zaman dahulu kala.
Geologis tanah daerah Blitar berupa tanah vulkanik yang mengandung abu ledakan gunung berapi, pasir dan napal (batu kapur bercampuran tanah liat). Warnanya kelabu kekuning-kuningan. Sifatnya masam, gembur dan peka terhadap erosi. Tanah semacam itu disebut tanah regosol yang dapat digunakan tuntuk penanaman padi, tebu tembakau dan sayur- sayuran. Disamping sawah yang sekarang mendominasi pemandangan alam daerah sekitar Kota Blitar ditanam pula tembakau di daerah ini. Tembakau ini ditanam sejak zaman Belanda berhasil menaruh daerah ini dibawah jurisdiksinya dalam Abad XVII. Bahkan pernahmaju-mundur Blitar ditentukan oleh berhasil tidaknya produksi tembakau di daerah ini. Sungai Brantas mengalir memotong daerah Blitar dari Timur ke Barat. Disebelah Selatan sungai Brantas (daerah Blitar Selatan) kita menjumpai tanah yang lain lagi jenisnya. Tanah ini tergolong dalam apa yang disebut grumusol. Tanah grumusol merupakan batu-batuan endapan yang berkapur di daerah bukit maupun gunung. sifatnya basah.
Tanah semacam ini hanya baik untuk penanaman ketela pohon (cassave) dan jagung di samping kegunaannya sebagai daerah hutan jati yang kering dan tandus. Seperti yang telah kita ketahui, sungai Brantas menerobos daerah Blitar dari Timur ke Barat.
Sungai yang terbesar di Jawa Timur sesudah Bengawan Sala ini mempunyai arti yang penting sekali bagi sejarah politik maupun sosial Jawa Timur. Bersumber digunung Arjuna sungai ini membawa unsur-unsur basis yang dimuntahkan di dataran tinggi aluvial Malang yang bersifat masam hingga larutan basa-asam menimbulkan unsur garam yang tidak bisa di pisahkan dari kesuburan tanah karena garam merupakan bahan makan tumbuh-tumbuhan seperti padi, polowijo dan sebagainya.
Peranan semacam ini diulangi lagi oleh sungai Brantas kalau sungai ini menalir menerobos Daerah Bltiar. Di daerah ini sungai Brantas menerima unsur basis dalam airnya yang kemudian dimuntahkan di dataran rendah aluvial Tulungangung (Ngrawa) dan Kediri yang bersifat masam sehingga daerah itu menjadi subur.
Sekali lagi sungai ini setelah melewati kediri menerobos pegungungan kapur Kendeng Tengah di sekitar Jombang dan memuntahkan unsur basisna di rawa-rawa yang masam di daerahmuara dan deretannya sekitar Mojokerto hingga endapan aluvial di daerah itu menjadi subur.
Tiga darah pusat kesuburan ini, yaitu Malang, Kediri, Mojokerto seakan-akan secara alamiah diciptakan oleh sungai Brantas untuk menentukan apa yang di dalam geopolitik disebut " natural seats of power" atau tempat-tempat yang telah ditentukan oleh alam untuk menjadi tempat kedudukan sesuatu kekuasaan (Sir Halford Mackinder, 1919). Dan memanglah kemudian disitu timbul kerajaan-kerajaan yang besar di Jawa Timur: Kediri, Singosari, Majapahit.
Jika Kediri dan Majapahit secara alamiah boleh dikata berbatasan langsung , maka tidaklah demikian halnya dengan kediri dan Singosari. Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh alam dengan adanya rawa-rawa (muara sungai Porong), deretan gunung-gunung (Penanggungan, Welirang, Anjasmara, Arjuna, Kelud, Kawi) yang membentang dari Utara ke Selatan, dareah Blitar, dan pegunungan Kendeng Selatan yang kering lagi tandus. Kalau sekarang hubungan antara kediri dan Malang itu dapat dilaksanakan melalui tiga jalur jalan, ialah melalui Mojosari atau Ngantang atau Blitar, maka kira-kiranya di zaman dulu orang menggunakan dalam prakteknya hanya dua diantara tiga itu, ialah jalan Utara (Mojosari) dan jalan Selatan (Blitar). Jalan tengah (Ngantan) terlalu sukar dan berbahaya untuk ditempuh sehingga praktis orang tidak menggunakannya jika tidak terpaksa. Bahkan dalam abad XVII jalan ini menurut berita Belanda masih merupakan jalan yang sukar sekali dapat di tempuh (J.K.J de Jonge & M.L. Van De Venter, 1909). Van Sevenhoven dalam tahun 1812 menyebut jalan ini masih tetap sukar juga (B. Schrieke, 1957). Jalan Utara melalui
Mojosari kiranya agak sukar ditempuh juga pada waktu itu meningat adanya rawa-rawa di sekitar muara sungai porong. Kita masih ingat bagaimana sukarnya laskar Jayakatwang untuk menangkap Wijaya pada tahun 1292 didaerah itu. Wijaya pandai menggunakan keadaan medan yang berawa itu untuk meloloskan diri.
Jika semua yang dikemukakan diatas itu benar, maka jalan Selatan melalui Blitar itulah yang paling mudah ditempuh kalau dibandingkan dengan yang lainnya. keadaan alamnya memang memungkinkan hal itu.
Permukaan tanahnya bolh dikata tidak menunjukkan relief yang tajam. Sungai besar Brantas memotong daerah ini seakan-akan membuat jalan bagi manusia yang ingin melintasi daerah ini. Bukan rahasia lagi bahwa di zaman kuno ( dan di zaman sekarang di daerah penduduknya yang masih primitif) jalan gerak manusia itu pada umumnya ditentukanoleh sungai. Maka atas dasar semua itu krianya bolehlah kita kesimpulkan bahwa di zamandulu ( dan samapi sekarang ) daerah Blitar itu merupakan daerah lintasan antara Daha (Kediri) dan Tumapel (Malang) terdekat dan termudah hingga banyak ditempuh. Disinilah letak arti penting daerah Bltiar : daerah perbatasan yang menguasai lalu lintas antara dua daerah atau wilayah karena yang di zamanya saling bersaing ( Panjalu dan Jenggala, Daha dan Singosari ). Tidak mustahil bahwa banyaknya prasasti yang ditemukan di daerah Blitar ini (± 21 buah) menunjuk ke arah hal itu.
Bahwa Blitar merupakan daerah perbatasan antar Daha dan Tumapel mungkin dapat kita simpulkan dari peristiwa yang tercantumdalam kitab Negarakertaagama, empu Bharada atas permohonan raja Airlangga membagi kerajaan menjadi dua ialah kerajaan menjadi dua ialah kerajaan Panjalu dan Jenggala. Ini dilaksanakan dengan terbang sambil menuangkan air dari sebuah kendi (Kagarakertagama, Nyanyian 68 : 1,2,3). Kiranya air ini menjadi sungai yang kemudian menjadi batas antara Panjalu dan Jenggala. Sungai apakah ini sekarang belum dapat diketahui dengan pasti. Tetapi ada beberapa orang Ahli sejarah yang menafsirkan bahwa sungai tersebut kiranya sungai Lekso sekarang. Perkiraan ini didasarkan atas tafsiran etimologis mengenai nama sungai yang disebut dalam kitab Pararaton.
Diceritakan dalam Pararaton bahwa tentara Daha (Raja Jayakatwang) yang menyerbu Singasari (Raja Kertanegara) bergerak melali jalan Utara (Mojosari dan jalan Selatan-Blitar). Yang bergerak melalui Selatan dikatakan bahwa tentara itu "Saking Pinggir Aksa anuju in Lawor...anjugjugring Singasari pisan". (Pararaton, Bab V) yang arti "Dari tepi Akso menuju Lawor...langsung menuju Singosari" (Penerjemah Ki J. Patmapuspita, 1966).
Nama atau kata aksa yang terdapat dalam kalimat tersebut kemudian diperkirakan menjadi kali Aksa dan akhirnya Lekso seperti yang kita kenal sekarang. jika ini dapat kita terima maka adanya sungai Lekso di Blitar membenarkan peranan daerah Blitar sebagai daerah perbatasan antara Panjalu (Daha, Kediri) dan Jenggala ( Malang, Pasuruan ke Timur).
Pendapat ini dapat di perkuat lagi dengan peta yang berasal dari Abad XVII yang dilakiskan kembali oleh De Jonge yang mengatakan "...disebelah Timur sungai ini (sungai Lekso) terbentang daerah Malang dan disebelah Baratnya daerah Blitar". (B. Schrieke, 1957).
Jika kita menelaah peta dan mengalihkan atau mengetrapkan kesan kita pada zaman yang lampau, maka akan nampak pada kita bahwa daerah Blitar merupakan lobang dan satu-satunya lobang yang ada pada garis perbatasan alamiah yang memanjang dari Utara ke Selatan (rawa-rawa sungai Porong, gunung Penanggungan, gunung Welirang, kompleks Arjuna, kompleks Kawi-Kelud ..., gunung Kendang Selatan).
Seperti yang kita katakan terdahulu, lobang ini merupakan lobang lalu-lintas yang penting antara dua kerajaan itu. Blitarlah yang mengawasi lalu-lintas ini hingga Blitar mendapatkan kedudukan yang boleh dikata istimewa. Ini dapat dilihat dari adanya banyak prasasti dan bangunan suci di Blitar yang hampir semua memberikan hadiah bebas pajak kepada desa-desa. Desa-desa ini di sebut Sima. Walaupun bebas pajak namun Sima-Sima ini dibebani tugas istimewa yang berhubungan dengan banungunan suci atau dengan raja berdasarkan atas pertimbangan ekonomis (Dr. Soek mono, 1974). Nampaknya raja-raja, sejak Balitung sampai jatuhnya kerajaan Majapahit, berkepentingan di daerah Blitar ini. Bahkan Raja terbesar Majapahit, ialah Hayamwuruk, selama Pemerintahanya tidak kurang dari tiga kali mengelilingi Blitar. Bahwa seorang raja yang berstatus prabu (maharaja) seperti Hayamwuruk itu sampai berkali-kali pergi ke Blitar, maka arti penting Blitar tidak dapat begitu saja diabaikan. Apakah arti penting Blitar di samping letaknya yang strategis itu belum dapat kita ketahui dengan pasti karena belum didapatnya sumber-sumber informasi yang lengkap lagi dapat di percaya.
Kecuali penting karena letaknya yang strategis ini, Blitar juga penting artinya bagi agama di zaman kuno. Tidak kurang dari sepuluh bangunan suci tersebar di daerah Blitar. Diantara bangunan bangunan suci ini maka bangunan suci di Penataranlah yang tersebar dan terpenting, karena candi Penataran itu merupakan candi di Negara (status tample) atau candi pusat kerjaan. Adanya candi Penataran di mulai ketika raja Kertajaya yang juga disebut Crengga mempersembahkan sima untuk pemujaan "sira paduka bhatara Palah". Prasasti ini dibubuhi angka tahun Caka 1119 (1197 AD).
Ditanah sima itu baru kemudian didirikan candi-candi seperti yang kita kenal sekarang. Memang, tempatdi mana sesuatu bangunan suci itu akan didirikan sebenarnya mempunyai fungsi yang lebih penting daripada bangunan sucinya sendiri. Tempat itu harus mengandung kekuatan-kekuatan magis religius yang bersifat menyelamatkan. Dr. Soekmono dalam disertasinya "Candi, fungis dan pengertiannya" menyatakan seperti berikut :
" Sesuatu tempat suci adalah suci karena potensinya sendiri. Maka sesungguhnya, yang primer adalah tanahnya, sedangkan kuilnya hanya menduduki tempat nomer dua".
Jelaslah disini bahwa tanah atau tempat dimana bangunan-bangunan Candi Penataran itu berada dianggap tanah yang suci karena mengandung kekuatan-kekuatan gaib. Tetapi yang dianggap paling suci ialah titik pusat tanah atau halaman Candi Penataran dimana segala macam tenaga gaik bersatu dan perpusat. Pusat ini dianggap sebegitu keramatnya sehingga bangunan Candi induk pun tidak dipernankan menutupinya.
Candi penataran dibangun berhubung dengan adanya Gunung kelud yang selalu mengancam ketentraman kehidupan kerajaan. Karena itu Candi Penataran bersifat Candi Gunung, ialah Candi yang diperuntukkan bagi pemujaan Gunung atau untuk menghindarkan segala malapetaka yang dapat di sebabkan oleh gunung.
Nama Penataran kemungkinan besar bukan nama Candinya tetapi nama Statusnya sebagai Candi di Pusat Kerajaan. Candi-candi pusat semacam ini di Bali juga disebut dengan Penataran, misalnya Pura Panataransasih, Pura Panataran Besakih. Kata "natar" menurut Dr. Soekmono, berarti pusat sehingga Penataran berarti Candi Pusat. Nama yang sebenarnya kita belum tahu.
Akhirnya dapat ditambahkan disini bahwa daerah Blitar itu memegang peranan yang unik dalam sejarah, ialah tempat yang baik untuk mengundurkan diri (terugval-basis) bagi mereka yang ingin menyusun kembali kekuatanya. Letaknya sangat strategis. Dari Blitar baik dataran tinggi sebelah Timur maupun Barat gunung Kawi dapat diancam. Ken Arok mungkin tahu akan hal ini dan ia menjadi raja.
TINJAUAN DARI SUDUT SEJARAH DAN KEPURBAKALAAN
Salah satu sumber sejarah terpenting adalah Pracasti (prasasti) , karena merupakan dokumen tertulis yang orosinil (Damais, 1968).
Prasasti berarti : tulisan dalam bentuk puisi yang berupa pujian (matrical eulogitic inscription, Mc. Dannel, Sanskrit Dictionary 182a).
Prasasti juga berarti anugerah, karena umunya selaku Prasasti dalam arti pujian itu, di dasarkan atas anugerah yang diberikan seorang raja kepada rakyatnya. Dalam Prasasti, dalam arti anugerah itu, disebutkan berlakunya hak istimewa yang turun-temurun. Istilah untuk itu dalam Negara Kertagama disebut purwasarirareng prasatyalama tan rinaksan iwo, yang berarti hak-hak istimewa yang sejak dahulu dilindungi oleh Prasasti kuno. Enam abad yang lalu tepatnya pada bulan Waisaka tahun Saka 1283 atau tahun 1361 Masehi, Raja Majapahit Sri Hayamwuruk beserta pengiringya, singgah di Blitar dalam rangka perjalanan ke candi Palah (Penataran) untuk mengadakan upacara Puja. Bukan
hanya di Blitar iringan tamu itu singgah, tetapi tempat-tempat yang disinggahi yaitu Sawentar (Lwangwentar), Jimbe, Lodoyo, Simping (Sumberjati), Mleri (Taleri) di Srengat.
Kunjugan Raja itu bukan sekali itu saja dilakukan, karena pada tahun 1357 M. (1279 Saka) Raja telah meninjau pantai Selatan serta menginap beberapa hari lamanya di Lodoyo. (Nag. punuh 17/5; 6; 41/4;61/2; 3.)
Apabila Raja Hayamwuruk itu dalam kesempatan yang berlainan serta tujuan kunjungan yang berbeda, mengunjungi Blitar, hal itu memberikan petunjuk betapa pentingnya Blitar pada waktu itu, sehingga mendapat kunjungan istimewa beberapa kali. Dengan kata lain, Blitar dengan tempat-tempat lain sekitarnya telah lama dikenal sebagai tempat yang penting, dan selalu mendapat kunjungan Kepala Negara Majapahit. Blitar telah dikenal sejak lama dan dimasukkan dalam acara kunjungan resmi Sang Raja. Kenyataan ini membawa kita dalam suatu masalah sejak kapankah Blitar khususnya serta tempat-tempat lain disekitarnya pada umumnya muncul dalam arena sejarah? Jawaban persoalan ini akan membawa pula kepada penelusuran sejarah Blitar sejak kapan tercatat paling tua dalam sejarah pertumbuhannya. Dengan perkataan lain bilamanakah Blitar sebagai nama tempat, mulai dikenal dalam dokumen tertulis. Data tentang ini merupakan dasar untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Blitar, suatu kabupaten yang berkembang dari suatu tempat yang telah merintis perjalan sejarah lebih kurang enam abad yang silam.
Sumber tertulis memeberikan petunjuk adanya hubungan daerah Blitar dengan pusat kerajaan di Jawa Tengah, berasal dari zaman Pemerintahan Raja Balitung.
Dokumen tertulis itu ditemukan oleh Dr. Verbeek pada tahun 1868, yang kemudian diletakkan dihalaman Kabupaten Blitar.Tulisan itu dipahatkan pada punggung sebuah patung Ganesya, untuk kepetingan penelitian epigrafsi atau sejarah selanjutnya, dibuatlah salinannya (abklatch atau estampage) pada tahun 1809, termuat dalam catatan arsip purbakala, no. 298-300; 351;430-437. Kemudian berturut-turut dibahas dalam catatan tahun 1876 / no. 6; Cat 1891 hal. 5; 1893, hal. 120; Sedang fotonya pertama kali dibuat Van Kinsbergen, dalam arsip noto no. 332.
Turunan tulisan tersebut dibuat oleh Cohen Stuart dan Van Limberg Brower dalam Tidjschr, XVIII hal.109-117. Sayang sekali sumber yang tertua memuat daerah Blitar ini, tidak dicatat dari mana asalnya, tetapi tidak boleh tidak berasal dari wilayah Blitar. Prasasti yang ditulis dibelakang arca Ganesha ini, oleh Dr. C.L. Damais disebut juga dengan nama Prasasti Kinewu, berdasarkan nama desa yang ditetapkan dalam Prasasti tersebut.
Dalam Prasasti itu diberitakan bahwa Kepala Desa Kinwu telah diberi anugerah oleh Raja Balitung, yang bergelar Sri Iswara Kesawasamarot tungga, beserta mahamantrinya yang bernama Daksa, sebidang tanah sawah yang termasuk wilayah rambahan. Didalamnya disebutkan luas sawah yang dianugerahkan itu, beserta ketentuan-ketentuan pajak tanahnya. Disamping itu desebutkan para saksi yang memperkuat waktu upacara penganugerahan tersebut.
Prasasti itu ditetapkan pada bulan margasira tanggal 12 paroterang, tahun 829 Saka. Saat penetapan itu bertepatan dengan tahun Masehi 20 Nopember 907. ( Damais, 1955; hal. 48).
Bukti Prasasti Kinwu ini dapat memberi pentunjuk bahwa wilayah Blitar sejak abad ke X Masehi telah menjadi daerah kekuasaan seorang raja yang pusat Pemerintahanya di Jawa Tengah.
Sebagaimana diketahui, daerah kekuasaan raja dapat diketahi berdasarkan tempat-tempat prasasti raja tersebut ditempatkan / didirikan.
Atas dasar itu, dapat disebutkan bahwa prasasti yang dikeluarkan raja Balitung meliputi daerah yang luas, prasastinya selain ditemukan di daerah Blitar, juga terdapat di sekitar Singosari, Kabupaten Malang. Prasasti itu didirikan pada tempat atau desa yang ditetapkan dalam prasasti itu.
Suatu hal yang menari ialah bahwa prasasti Kinwu ini dipahat pada belakang sebuah arca Ganesha. Dalam seni patung Hindu, Ganesha adalah dewa penolak kejahatan / bahaya (wigniswara) disamping tugasnya yang lain sebagai Panglima kaum Gana. Dewa Ganesapun melambangkan ilmu pengetahuan atau dewa ilmu pengetahuan, serta dewa yang dianggap dapat memberi berkah selamat. Sebagai dewa yang menghancurkan kejahatan atau pelindung mandusia dari kekuatan jahat, Ganesha ini banyak dipuja orang. Bahkan namanya sering disebut sebagai dewa pelindung sebagai terbukti dari prasasti Geweg, dari tahun 855 Saka, atau bertepatan dengan tahun Masehi 933.
Bagaimanakah status Blitar pada abad ke X itu?
Berdasarkan sumber prasasti Kinewu tadi terbukti bahwa daerah Blitar merupakan daerah yang diperintah oleh Raja Watukuro Dya Balitung yang memerintah antara tahun 897-910 Masehi. Dengan kata lain daerah Blitar menjadi bagian sebelah Timur kerajaan yang berpusat di Jawa Tengah. Di daerah Blitar ini ditempatkan seorang pegawai yang mewakili raja. Dalam masyarakat tanpa ekonomi uang, raja tidak dapat memberi gaji pada pegawainya selain berupa tanah. Hukum Jawa Kuno memuat ketentuan bahwa raja sering menghadiahkan sebidang tanah kepada pegawainya yang berjasa. Ketentuan itu harus dikukuhkan dengan suatu penetapan piagam atau prasasti. Tanah adalah milik raja yang dapat diberikan kepada bawahanya. Menurut kitab hukum Kutarananawa pasal 93 di sebutkan : Sang Ratu wiwesa mawa bumi desa, selanjutnya dalam pasal 100 ditentukan bahwa : apan drwe sang prabhu lemah ika. Jelaslah bahwa milik Raja yang terpeting adalah tanah. Dalam masa-masa kemudian kita lihat adanya lembaga-lembaga tanah bengkok, lungguh, gaduan, tanah gumantung, tanah patuh dan sebagainya.
Sejak abad XII Masehi, tampilah Pusat Kerajaan baru yang berpusat di sekitar Kediri sekarang. Kerajaan itu bernama Panjalu, yang daerah kekuasaannya meliputi wilayah antara gunung Wilis di sebelah Barat sampai gunung Kawi di sebelah Timur. ( Kawi dalam hubungan ini berarti gunung ynag terletak disebelah Timur).
Dewasa ini daerah kekuasaan Kerajaan Kediri / Panjalu ini termasuk daerah Kabupaten Kediri, Tulungagung, Blitar dan Malang , suatu hal yang cukup menarik bahwa letak prasasti raja-raja Kediri itu hampir sebagian besar terdapat di daerah Kabupaten Blitar sekarang. Memang letak pendirian prasasti itu dapat menunjukkan aktifitas politik, ekonomi serta kebudayaan masa itu. Prasasti-prasasti raja-raja Kediri itu, memuat nama desa-desa kuno di daerah Kabupaten Blitar, yang sekarang sebagian besar masih bertahan nama seperti ketika diresmikan untuk pertamalainya. Nama-nama desa itu karena perkembangan jaman kemudian berubah. Desa-desa yang memegang peranan penting semasa menjadi daerah kekuasaan kerajaan Panjalu, antara lain ialah dengan Pandelegan, dekat Pikatan, desa Mleri, yang sekarang termasuk daerah Kecamatan Srengat. Demikian pula penduduk desa-desa Penumbangan, (Brumbung) Karangrejo, Talan (Gurit), Jepun.
Nama-nama desa itu dewasa ini termasuk daerah Kecamatan Wlingi, kesamben dan Gandusari. Penduduk di desa-desa tersebut telah menunjujkkan kebaktiannya kepada raja, sehingga di anugerahkan status swatantra dengan hak Sima yang turun-temurun. Daerah disebelah Selatan sungai Brantas pada masa Pemerintahan Kerajaan Kediri pun tampil dalam sejarah.Hal itu terbukti dengan adanya sebuah prasasti yang berhubungan dengan penduduk desa Jaring, Sumberarum Kecamatan Lodoyo sekarang.
Dan selama hampir 800 tahun yang lalu, nama desa Jaring ini tetap bertahan sampai sekarang, demikain pula letak prasasti batunya berada di tempat semula, ketika diresmikan 8 abad yang lalu.
Daerah Blitar semasa Pemerintahan raja-raja Singasari - Majapahit Sekitar abad ke XIII - XV Masehi.
Munculnya Ken Arok sebagai raja di Tumapel, merupakan babak baru dalam sejarah Jawa Timur umumnya, daerah Kabupaten Blitar khususnya. Kerajaan Singasari yang berkembang selama kurang lebih satu abad, tidak banyak menimbulkan perubahan bagi sejarah daerah Kabupaten Blitar.
Terdapat petunjuk bahwa daerah sepanjang sungai Brantas, masih mendapat perhatian yang penting. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya pertulisan (inkripsi) pada sebuah arca Ganesha, yang sekarang berada di desa / dukuh Bara, Kademangan. Inskripsi itu merupakan kalimat yang mengandung angka tahun (Chronogram) yang berbunyi : Hanaghana hana Bhumi, yang bernilai angka 1611, atau tahun Saka 1161, bertepatan tahun Masehi 1239. (Bernet Kempres, 1959; Veth, Eigen Haard, 1876:143, Ganesa, metafbeelding van het Ganesa beeld te Bara).
Adanya data tersebut membuktikan bahwa desa Bara sekarang dahulu telah dikenal semasa Pemerintahan Raja Anusapati, (1227-1248) dari Singasari. Adanya patung Ganesa itu sendiri membuktikan bahwa di daerah kademagan sekarang dikenal adanya pusat bengkel (atelir) seni patung. Apakah artinya Ganesa pada tepi sungai Brantas itu? Sebagaimana dikenal dalam mitologi Hindu, Ganesah adalah dewa yang menolak kekuatan jahat atau disebut sebagai Wigniswara.Penempatan patung itu selain merupakan pernyataan adanya kekuasaan raja Singasari sekaligus merupakan penolak bahaya, memberikan perlindungan keselamatan bagi orang-orang yang menyebrang sungai Brantas.
Daro Lodoyo ditemukan katak yang memuat angka tahun Saka 1213 atau 1291 Masehi. (Knebel, ROC, 1908, :24). Data tersebut berhubungan dengan masa pemerintahan Raja Kertanegara (1268-1292 M). Sebuah prasasti dari raja ini ditemukan di desa Petungamba yang kini berada di muka Pendopo kabupaten Blitar. (Brandes, OJO: LXXX, hal :
193-195). Prasasti yang berangka tahun 1191 Saka atau tahun 1169 M ini memuat nama desa Petungamba.
Bagaimanakah keadaan daerah Blitar pada masa pemerintahan Raja-raja Singasari tidak banyak diperoleh. Namun dapatlah dimaklumi bahwa pusat Pemerintahan yang berada disebelah Timur Gunung Kawi ini lebih banyak menaruh perhatian kepada daerah sekitar Malang. Akan tetapi sebuah bangunan suci yang terletak di desa Sawentar sekarang sangat peting untuk menunjukkan hubungan antara daerah Blitar dengan pusat Pemerintahan di Tumapel.
Ditinjau dari sudut kebudayaan, bangunan candi Sawentar itu memperlihatkan persamaan arsitektur serta ornamentik dengan bangunan candi zaman Singosari, yaitu dengan candi Kidal. (Bernet Kempers, 1959).
Kalau hal itu dapat diterima, maka candi Sawentar ini paling tidak sezaman dengan candi Kidal, yang dikenal sebagai Makam Raja Anusopati. Dengan demikian dapatlahdipahami bahwa Candi itu menunjukkan bukti adanya hubungan antara penampilan daerah Blitar sebagai daerah yang penting dari Kerajaan Singosari. Kenyataan ini pentin untuk membuktikan adanya hubungan kesinambungan sejarah daerah kabupaten Blitar, dengan pusat kekuasaan politik di Jawa Timur, sejak abad ke-X sampai pada saatnya Blitar menjadi pusat aktivitas politik, sosial budaya, yang menandai kehadirannya dengan kelahirannya kelak dan peranannya sebagai ibukota kabupaten yang sebenarnya.
Bilamanakah Blitar mulai berperan sebagai pusat Pemerintahan?
Penentuan titi mangsa lahirnya Blitar sebagai pusat pemerintahan merupakan jawaban atas masalah hari pendirian Pemerintah Daerah yang kemudian menjadi Kabupaten Blitar. Dari berbagai prasasti yang dipandang sebagai bukti autentik seperti terurai atas, tidak terdapat sebuahpun yang memuat nama Blitar sebagai nama tempat pusat Pemerintahan. Suatu hal yang pasti bahwa beberapa nama desa atau tempat yang disebutkan dalam prasasti-prasasti itu berada atau termasuk wilayah Kabupaten Blitar sekarang. Kenyataan itu membuktikan bahwa (sebagian) daerah Blitar sejak sepuluh abad yang lalu telah menjadi pusat kehidupan masyarakat yang penting. Berita agak pasti mengenai pertumbuhan Blitar sebagai pusat Pemerintahan mulai ada sejak awal pemerintahan Raja-raja Majapahit. Sebagaimana dapat dibuktikan dalam sejarah Kerajaan Majapahit lahir setelah Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Tartar Ku Bilai Khan pada tahun 1293 M. (Pararaton:33)
Majapahit sebagai negara baru berpusat di dekat Majakerta. Di bawah pimpinan Raden Wijaya sebagai Raja pertama, negara Majapahit tumbuh dengan pesat. Suatu hal yang menarik dalam hubungan sejarah daerah Blitar dari masa itu ialah adanya peninggalan bangunan suci yang terletak di desa Kotes Kecamatan Gandusari.
Pada Bangunan itu terdapat angka tahun 1222 Saka dan 1223 Saka. Dengan demikian bangunan tersebut berasal dari tahun 1300 dan 1301 Masehi (Knebel :1908:hal.355). Dengan perkataan lain, bangunan itu adalah sezaman dengan Pemerintahan Raja pertama Majapahit. Kenyataan di atas membuktikan bahwa saerah Blitar pada awal abad ke - XIV masih menjunjukkan wilayah yang penting. Apakah hubungan pendirian bangunan suci itu dengan sejarah daerah ini? Suatu petunjuk yang dapat memberikan keterangan tentan hal itu antara lain terdaptnya sejumlah Prasasti dari masa abad ke-XII Masehi di daerah sepanjang lembah kaki Gunung Kawi sebelah Barat. Ini menunjukkan bahwa daerah ini masih dapat dibuktikan hingga sekarang dengan adanya beberapa perkebunan. Faktor alamiah yang menguntungkan ini meyebabkan adanya kehidupan masyarakat yang makmur. Kemakmuran itu mendorong pertumbuhan pertumbuhan penduduk yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak terdapat catatan tentang jumlah penduduk di daerah Blitar bagian Timur ini, namun dapat diperkirakan bahwa dengan adanya men-power maka daerah ini menjadi penting. Tersedianya tenaga manusia yang cukup besar, merupakan salah satu jaminan pengerahan pasukan secara mudah untuk suatu tujuan pertahanan maupun serangan.
Seperti halnya dalam prasasti Tuhanyaru yang menyebutkan adanya anugerah tanah kepada sejumlah pejabat kerjaan berhubung yang bersangkutan telah berjasa kepada raja, maka prasasti Blitar pun memuat pernyataan yang serupa. Dapat diketahui bahwa hubungan antara raja Jayanegara dengan daerah Blitar mempunyai sifat yang istimewa. Hubungan yang istimewa itu diperlihatkan pada penetapan sejumlah ha yang diberikan kepada para pejabat, berhubung dengan kesetiaan desa Blitar kepada raja.
Dalam hubungan ini peristiwa apakah yang terjadi sehingga raja berkenan untuk memberikan anugerah kepada penduduk desa Blitar.
Seperti diketahui raja Jayanegara menjadi raja Majapahit yang kedua, menggantikan ayahnya Kerjarajasa Jayawardhana yang meninggal pada tahun 1309 M. Tentang Pemerintahannya ini ada dua sumber yang memberikan keterangan agak berbeda. Kedua sumber tadi adalah Negarakertagama, yang ditulis oleh Prapanca dan Pararaton yang tidak dicantumkan nama penulisanya. Secara singkat sekali Negarakertagama menceritakan tentang masa Pemerintahannya yang berlangusng antara tahun 1309-1328 Masehi. Didalam pupuh XLVII Prapanca melukiskan yang terjemahan dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:
-. Beliau meninggalkan Jayanegara sebagai raja Wilwatikta dan keturunan adiknya rajapadhi utama yang tiada bandingya, Dua puteri amat cantik, bagai Ratih kembar mengalahkan Bidadari yang sulung rani di Jiwana, sedangkan yang bungsu jadirani di Daha.
-. Tersebut pada tahun Saka : Mukti-guna-memaksa rupa bulan - madu, Baginda Jayanegara berangkat menyirnakan musuh ke Lumajang, Katanya Pajarakan dirusak, Nambi sekeluarga dibinasakan, Giris miris segenap jagad melihat keperwiraan Sri Baginda.
-. Tahun Saka : bulatan memanah suryah beliau pulang, Segera dimakamkan didalam pura, berlambang arca Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnuparama. Di sela Petak dan Bubat tertegak area Wisnu - lambang - tara - inda. Di Sukalila arca Buda permai sebagai Amoga sidi - menjilma ( Slamet Mulyana, 1953 : 42).
Dari pupuh tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa semasa Pemerintahan Jayanegara menghancurkan pemberontakan Nambi pada tahun 1361M. Lebih jauh Pararaton memberitakan timbulnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggalawe, Sora dan Nambi. Semua pemberontakan itu dapat di padamkan oleh Baginda.
Suatu pemberontakan pecah lagi pada tahun 1316 dan 1317 dibawah pimpinan Kuti dan Seni. Pemberontakan itu mengakibatkan raja Jayanegara menghindarkan diri ke desa Bedander dengan pengawalan pasukan Bhayangkara dibawah pimpinan Gajah Mada. Berkat siasat Gajah Mada, Jayanegara berhasil kembali naik tahta. Kuti dan Seni berhasil dibinasakan. (Pararaton : 80-83).
Kedua pemberitaan itu memberi petunjuk bahwa semasa Pemerintahan Jayanegara telah terjadi pemberontakan, tetapi berhasil dipadamkan. Kenyataan diatas membuktikan bahwa Jayanegara menghadapai masa yang sulit pada tahun pertama Pemerintahannya. Kenyataan inilah yang dapat memberikan keterangan, apa sebab Jayanagara mengeluarkan prasastinya tersebut di atas. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa penetapan prasasti di Blitar ini merupakan peristiwa penting setelah Jayanegara ini merupakan titik peresmian berdirinya swatantra Blitar dalam naungan Kekuasaan Majapahit dibawah Pemerintahan Jayanagara. Dan peristiwa yang penting itu, sesuai dengan unsur penanggalan dalam prasasti, terjdi pada hari Minggu Pahing bulan Srawana tahun Saka 1246, yang bertepatan dengan tanggal 5 Agustus 1324M.
Untuk masa-masa selanjutnya Bliar disebutkan dalam kitab Negarakertagama dalam hubungannya dengan perlawatan Raja Hayam Wuruk ke daerah-daerah Jawa Timur. Beberapa puluh tahun yang membuat hal pemberitaah hal itu sepanjang menyangkut Blitar serta tempat-tempat lain di daerah sekitarnya tertulis dalam pupuh-pupuh.
K E S I M P U L A N
Atas dasar pertimbangan bab-bab yang telah terurai terdahulu, ialah :
1. Tampilah Wilayah yang kini menjadi daerah Kabupaten Blitar, yang paling tua tercatat dalam prasati Kinewu dipahatkan pada belakang arca Ganesa dari abad X. Prasasti itu memberikan petunjuk bahwa wilayah Kabupaten Blitar, merupakan bagian dari kerajaan Balitung yang berpusat di Jawa Tengah.
2. Ketika pusat Pemerintahan pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur sekitar abad ke-X, sejarah daerah kabupaten Blitar dapat diketahui berdasarkan prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja dinasti Isana. Selama Pemerintahan raja-raja ini berlangsung diantara awal abad ke-X sampai dengan akhir abad ke-XII, beberapa tempat yang sekarang termasuk Wilayah Kabupaten Blitar disebut dalam prasasti-prasasti Pandelegan I 1117, Panumbangan I 1120, Geneng I 1128, Talang 1136, Japun 1144, Pandelegan II 1159, Mleri I 1169, Jaring 1181, Semanding 1182, Palah 1197, Subhasita 1198, Mleri I 1198 dan Tuliskriyo 1202.
3. Ketika kerajaan Singasari berkembang ada berapa prasasti yang berhubungan dengan daerah Kabupaten Blitar sekarang. Prasasti tersebut dikeluarkan pada masa Pemerintahan Raja Kartanagara (1268-1292) yang dikenal dengan prasasti Petung Ombo 1260 M. Beberapa peninggalan purbakala yang berasal dari zaman Singasari seperti : patung Ganesa dari Boro dan Candi Sawentar membuktikan bahwa semasa Pemerintahan raja-raja Singasari, daerah kabupaten Blitar telah memegang peranan yang penting.
4. Pada zaman Majapahit kedudukan daerah Kabupaten Blitar menjadi sangat penting. Hali itu terbukti dengan adanya candi Kotes yang didirikan pada masa Pemerintahan pendiri kerajaan Majapahit yaitu Nararya Wijaya atau Kerta Rajasa Jayawardhana (1294-1309). Candi makam raja ini terletak di desa Sumberjati dukuh Simping Kecamatan Suruhwadang.
5. Saat yang sangat penting bagi pertumbuhan sejarah Kabupaten Blitar dewasa ini terjadi pada masa Pemerintahan raja Jayanagara (1309-1328). Salah satu prasastinya ditemukan di desa Blitar sekarang. Prasasti tersebut terkenal dengan prasasti Blitar I yang bertarikh "Swasti sakawarsatita 1246 Srawanamasa tithi pancadasi Suklapaksa wu para wara...." atau 5 Agustus 1324 Masehi. Prasasti ini memuat saat berdirinya Blitar sebagai daerah Swatantra.
6. Masa-masa Pemerintahan raja-raja Majapahit kemudian, nama Blitar berkali-kali disebutkan dalam kitab Nagara-Kertagama yang ditulis oleh Pujangga : Prapanca. Naskah ini selesai ditulis bertepatan dengan 1 Oktober 1363 M. Blitar dan tempat-tempat lain telah dikunjungi oleh raja Hayam-Wuruk dan Mahapatih Gajahmada dalam rangka perjalan raja Hayam Wuruk dalam rangka perjalanan raja Hayam Wuruk ke wilayah Jawa Timur yang dimulai pada tahun 1357 M.
7. Beberapa peninggalan yang berupa candi membuktikan bahwa sepanjan abad XIV hingga akhir abad XV kedudukan Blitar semakin penting. Hal itu terbukti dari adanya candi Penataran yang merupakan candi negara sebagian
besar berasal dari masa Pemerintahan Jayanagara hingga Wikramawardhana (1389-1429).
Peninggalan dari raja terakhir ini sekarang terdapat di lereng gunung Kelud yang sekarang di kenal dengan nama
Candi Gambar Wetan (1429 M).
Maka berdasarkan kesimpulan di atas diambil keputusan bahwa :
HARI LAHIR KABUPATEN BLITAR ialah 5 AGUSTUS 1324 Total Hit 674 [ Klik Sini Untuk Berkunjung ]
: : Situs lain pada subkategori Pemerintah Daerah : :
Situs Resmi Pemerintah Kota Blitar04-11-2008
Situs Resmi Pemerintah Kota Blita Kota Blitar yang juga dikenal dengan sebutan Kota Patria , Kota Lahar dan Kota Proklamator secara legal-formal didirikan pada ...